Thariqat tijaniyah dasarnya bukan organisasi formal yang sistem organisasinya menggunakan sistem birokrasi dan administrasi formal. Thariqat merupakan organisasi ibadah yang memusatkan programnya pada orientasi komunikasi langsung dengan Tuhan, sedangkan komunikasi dengan Tuhan tidak mensyaratkan aturan birokrasi dan administrasi formal. Mekanisme dan prosedur yang dikenal dalam tradisi Thariqat adalah ijazah (talqin) wirid. Sistem demikian terdapat juga di dalam thariqat tijaniyah.
Jumlah anggota thariqat tijaniyah di Indonesia cukup besar yang tersebar di berbagai Kabupaten dan Provinsi, terutama di Kabupaten yang penduduknya adalah mayoritas Islam. Jumlah riil anggota thariqat tijaniyah di Indonesia tidak terdaftar secara lengkap dan pasti..
Latar belakang golongan sosial anggota thariqat tijaniyah sangat beragam. Keragamana ini terjadi terutama karena perbedaan tingkat profesi. Dari sudut pandang sosial, anggota thariqat tijaniyah dapat dibagi atas petani, pedagang, pegawai negeri (pejabat pemerintah), buruh, guru, dosen, ulama, ustadz, dan ibu rumah tangga. Sebagian besar anggota thariqat tijaniyah ini berasal dari golongan petani dan pedagang. Golongan petani bukan hanya berupa buruh di sawah, tetapi juga mencakup pemilik sawah (ladang). Para ulama (muqaddam) dan ulama pesantren lain (non muqaddam) termasuk dalam kategori petani pemilik sawah (ladang).Latar belakang anggota thariqat tijaniyah ini juga beragam; ada yang tamat SD/MI, SMP/MTs, SLA/MA, perguruan tinggi (S1, S2, S3), akademi, bahkan banyak juga yang tamat dari pesantren. Keragaman golongan pendidikan menimbulkan keragaman tingkat pengetahuan agama maupun umum; ada yang santri, awam, alim, ustadz, ulama, sarjana muda, sarjana doktoral, master, doktor. Namun demikian, ciri khas yang menonjol dalam keragaman golongan sosial, tingkat pengetahuan, dan golongan profesi adalah mereka merupakan masyarakat yang ta’at dan fanatik beragama.
Latar belakang dan motivasi para anggota masuk thariqat tijaniyah juga beragam. Beberapa yang melatar belakangi para anggota tijaniyah masuk thariqat tijaniyah ---berdasarkan pengakuan dan pengalaman mereka--- adalah sebagai berikut :
Mereka berpandangan perlunya “guru” dalam bimbingan rohaniyah dan berdzikir kepada Allah swt. Sebab dengan bimbingan dari guru, berdzikir kepada Allah menjadi terarah, dan dengan bai’at dari guru, berdzikir menjadi lebih berdisiplin.
Mereka beranggapan bahwa di dalam thariqat terdapat nilai dan sifat yang jelas tentang isi, teknik, dan tata cara wirid.
Mereka berpandangan bahwa didalam thariqat terdapat nilai dan sifat kolektifitas dan solidaritas. Sifat kolektifitas dan solidaritas dalam thariqat tijaniyah menambah banyak kerabat saudara yang saling membantu, gotong royong, saling mendo’akan. Tradisi demikian sangat sesuai dengan kepribadian anggota dan masyarakat.
Mereka merasakan bahwa thariqat tijaniyah telah menjadi tradisi di lingkungan keluarga dan masyarakat. Tradisi yang baik dalam thariqat ini membentuk nilai-nilai budaya yang baik dalam thariqat ini membentuk nilai-nilai budaya yang positif dan dinamis dalam keluarga dan masyarakat.
Mereka melihat pengalaman rohaniyah para penganut tijaniyah yang banyak diantara mereka pada akhir hayatnya dalam keadaan berdzikir.
Mereka melihat bahwa terdapat ikatan silaturahmi yang kuat antara sesama ulama tijaniyah dan sesama jama’ah tijaniyah.
Meskipun latar belakang para penganut thariqat tijaniyah beragam, terdapat keragaman mereka dalam inti motifasi, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara ibadah melalui dzikir. Keragaman juga tampak dalam hasil praktis yang dirasakan mereka, yaitu istiqamah (kelanggengan), dan disiplin dalam berdzikir dan istighfar kepada Allah swt. Dalam hal ini mereka berpandangan bahwa ini tidak lepas dari dosa; manusia yang yang baik bukanlah manusia yang tanpa dosa tetapi manusia menyadari dosa dan bertekad untuk menghapuskan dosa itu. Jalan untuk itu adalah istighfar. Dari sini ajaran thariqat tijaniyah sangat relevan.
Dengan demikian terlihat bahwa inti ajaran thariqat tijaniyah dalam bentuk dzikir; istighfar, shalawat dan tahlil, merupakan letak keseragaman motifasi dan hasil praktis yang dialami dan dirasakan oleh para anggota tijaniyah.




0 komentar:
Poskan Komentar