Dalam thariqat tijaniyah terdapat wirid ikhtiyari yang diajarkan oleh shahibutthariqah, hal ini dimaksudkan untuk memenuhi hajat muridnya. Ini berarti wirid ikhtiyari yang dikembangkan dalam thariqat tijaniyah bersumberkan langsung dari shahibutthariqah. Untuk itu setiap murid thariqat tijaniyah, idealnya segenap wirid yang berkaitan dengan hajat duniawi ataupun ukhrawi mengambil wirid ini.
Buku khusus yang memuat wirid ini adalah buku Ahzab Wa Awrad yang disusun oleh al-Sinqiti; disamping wirid-wirid lain yang tersebar dalam kitab thariqat tijaniyah.
Diantara wirid ikhtiyari yang berkembang di Indonesia adalah wirid sebagaimana terdapat dalam buku susunan KH. Umar Baidhawi ---shahibulmasikhakh thariqat tijaniyah--- yang berjudul الحصن الحصين buku tersebut memuat wirid-wirid ikhtiyari thariqat tijaniyah yang mempunyai sanad langsung kepada shahibutthariqah.
Di Jawa Timur misalnya, muqaddam yang mengembangkan wirid ikhtiyari sebagaimana dalam buku tersebut adalah Habib Ja’far. Amalan wirid dalam buku tersebut diamalkan secara rutin setiap bulan khususnya disekitar Probolinggo yang setiap kali penyelenggaraannya dihadiri tidak kurang sekitar 3000 jama’ah. Habib Ja’far memberi nama untuk kegiatan ini dengan istilah “khalwat”, sungguhpun istilah ini masih diperdebatkan di lingkungan internal thariqat tijaniyah karena dalam thariqat tijaniyah tidak dikenal khalwat hal ini merujuk pada perintah Rasul kepada Syekh Ahmad al-Tijani (إلْزَمْ هَدِهِ الْطَرِيْقَة مِنْ غَيْرِ خَلْوَةٍ ولاَإِْعْتِزَالٍ عَنِ الْخَلْقِ ) peganglah thariqat ini tanpa harus khalwat/bersunyi diri dan menjauh dari makhluk.
Sungguhpun demikian, hemat penulis penamaan aktifitas wirid ikhtiariyah dengan sebutan khalwat boleh-boleh saja karena istilah khalwat yang dimaksudkan dalam wirid ihktiyari ini berbeda dengan larangan khalwat yang disabdakan oleh Rasulullah saw., kepada Syekh Ahmad al-Tijani.
Sebenarnya jauh sebelum Habib Ja’afar mendeklarasikan khalwat untuk wirid ikhtiyari; istilah ini sudah dikembangkan oleh KH. Badruzzaman ketika ia melakukan pengkaderan tentara Hizbullah pada masa pra-kemerdekaan, dimana sebelum diterjunkan kemedan perang pertempuran melawan Belanda, terlebih dahulu dibina melalui lembaga penggemblengan ruhani yang disebut khalwat.
Agaknya penamaan khalwat untuk wirid ikhtiyariah sebagaimana dimaksud oleh dua tokoh tersebut dalam rangka membangun kekhusyuan dalam wirid, sebab sabda Rasulullah Saw., di atas sudah difahami dan disepakati dalam lingkungan Thariqat Tijaniyah, bahwa thariqat ini adalah thariqat Syukur dan Mahabbah; hal ini menunjukan perbedaan dengan thariqat lain yang bersifat mujahadah dan mempunyai konotasi khalwat.
Buku khusus yang memuat wirid ini adalah buku Ahzab Wa Awrad yang disusun oleh al-Sinqiti; disamping wirid-wirid lain yang tersebar dalam kitab thariqat tijaniyah.
Diantara wirid ikhtiyari yang berkembang di Indonesia adalah wirid sebagaimana terdapat dalam buku susunan KH. Umar Baidhawi ---shahibulmasikhakh thariqat tijaniyah--- yang berjudul الحصن الحصين buku tersebut memuat wirid-wirid ikhtiyari thariqat tijaniyah yang mempunyai sanad langsung kepada shahibutthariqah.
Di Jawa Timur misalnya, muqaddam yang mengembangkan wirid ikhtiyari sebagaimana dalam buku tersebut adalah Habib Ja’far. Amalan wirid dalam buku tersebut diamalkan secara rutin setiap bulan khususnya disekitar Probolinggo yang setiap kali penyelenggaraannya dihadiri tidak kurang sekitar 3000 jama’ah. Habib Ja’far memberi nama untuk kegiatan ini dengan istilah “khalwat”, sungguhpun istilah ini masih diperdebatkan di lingkungan internal thariqat tijaniyah karena dalam thariqat tijaniyah tidak dikenal khalwat hal ini merujuk pada perintah Rasul kepada Syekh Ahmad al-Tijani (إلْزَمْ هَدِهِ الْطَرِيْقَة مِنْ غَيْرِ خَلْوَةٍ ولاَإِْعْتِزَالٍ عَنِ الْخَلْقِ ) peganglah thariqat ini tanpa harus khalwat/bersunyi diri dan menjauh dari makhluk.
Sungguhpun demikian, hemat penulis penamaan aktifitas wirid ikhtiariyah dengan sebutan khalwat boleh-boleh saja karena istilah khalwat yang dimaksudkan dalam wirid ihktiyari ini berbeda dengan larangan khalwat yang disabdakan oleh Rasulullah saw., kepada Syekh Ahmad al-Tijani.
Sebenarnya jauh sebelum Habib Ja’afar mendeklarasikan khalwat untuk wirid ikhtiyari; istilah ini sudah dikembangkan oleh KH. Badruzzaman ketika ia melakukan pengkaderan tentara Hizbullah pada masa pra-kemerdekaan, dimana sebelum diterjunkan kemedan perang pertempuran melawan Belanda, terlebih dahulu dibina melalui lembaga penggemblengan ruhani yang disebut khalwat.
Agaknya penamaan khalwat untuk wirid ikhtiyariah sebagaimana dimaksud oleh dua tokoh tersebut dalam rangka membangun kekhusyuan dalam wirid, sebab sabda Rasulullah Saw., di atas sudah difahami dan disepakati dalam lingkungan Thariqat Tijaniyah, bahwa thariqat ini adalah thariqat Syukur dan Mahabbah; hal ini menunjukan perbedaan dengan thariqat lain yang bersifat mujahadah dan mempunyai konotasi khalwat.




0 komentar:
Poskan Komentar